Archive

Posts Tagged ‘Syekh Nawawi al-Bantani’

Bahkan Imam Ahlussunnah Terkemuka Sekelas Ibn Hajar al-Asqalani Dituduh Sesat Oleh Kaum Wahabi!!! Na’udzu Billah!!

Juli 8, 2010 14 komentar

Silahkan kunjungi blog/web berikut ini, sangat penting untuk memperdalam aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah dan membongkar aqidah sesat semacam Wahabi; klik

Malasah yang paling banyak mendapat pengingkaran keras dari kaum Musyabbihah [kaum Wahabi di masa sekarang] yang sangat benci terhadap Ilmu Kalam adalah pembahasan nama-nama atau sifat-sifat Allah. Mereka seringkali mengatakan bahwa ungkapan istilah-istilah seperti al-jism (benda/tubuh), al-hadaqah (kelopak mata), al-lisan (lidah), al-huruf (huruf), al-qadam (kaki), al-jauhar (benda), al-‘ardl (sifat benda), al-juz’ (bagian), al-kammiyyah (ukuran) dan lain sebagainya, dalam pembahasan tauhid adalah perkara bid’ah. Mereka mengatakan bahwa dalam mentauhidkan Allah tidak perlu mensucikan Allah dari istilah-istilah tersebut. Menurut mereka pembahasan seperti itu bukan ajaran tauhid yang diajarkan Rasulullah, dan karenanya, -menurut mereka-, hal semacam itu bukan merupakan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Baca selanjutnya…

Para Ulama Ahlussunnah Memerangi Ibn Taimiyah [Mengenal “Tiang Utama” Ajaran Sesat Wahabi]

Juni 1, 2010 15 komentar

Para Ulama Telah Membantah Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab; Perintis Gerakan Wahhabi. Klik gambar!!!!Ibn Taimiyah (w 728 H) adalah sosok kontroversial yang segala kesesatannya telah dibantah oleh berbagai lapisan ulama dari empat madzhab; ulama madzhab Syafi’i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali. Bantahan-bantahan tersebut datang dari mereka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Berikut ini adalah di antara para ulama tersebut dengan beberapa karyanya masing-masing :

  1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).
  2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
  3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.
  4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini, yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyûn at-Tawârikh karya Imam al-Kutubi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu’tadî karya Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi. Baca selanjutnya…

Dari Pernyataan Ulama Ahlussunnah Dalam Menjelaskan Bahwa Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah (Mewaspadai Ajaran Wahhabi)

Mei 28, 2010 7 komentar

Pernyataan Para Ulama Ahlussunnah Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah; Mewaspadai Aqidah Tasybih Sesat Yang Dipropagandakan Kaum Wahhabi; Waspadai Mereka, Jangan Sampai Merusak Generasi Kita!!!! klik gambar...

Dalam tulisan ringkas ini kita kutip pernyataan beberapa ulama dalam penjelasan dalil-dalil akal bahwa Allah tidak membutuhkan tempat dan arah, sekaligus untuk menetapkan bahwa keyakinan Allah bersemayam di ata arsy, atau bahwa Allah berada di arah atas, serta keyakinan-keyakinan tasybih lainnya adalah keyakinan batil, berseberangan dengan akidah Rasulullah dan para sahabatnya serta keyakinan yang sama sekali tidak dapat diterima oleh akal sehat. Berikut ini kita kutip pernyataan mereka satu persatu.

• al-Imam Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syafi’i (w 478 H) dalam kitab al-Ghunyah Fi Ushuliddin menuliskan sebagai berikut:

“Tujuan penulisan dari pasal ini adalah untuk menetapkan bahwa Allah tidak membutuhkan tempat dan arah. Berbeda dengan kaum Karramiyyah, Hasyawiyyah dan Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas. Bahkan sebagian dari kelompok-kelompok tersebut mengatakan bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy. Jelas mereka kaum yang sesat. Allah Maha Suci dari keyakinan kelompok-kelompok tersebut. Baca selanjutnya…

Membongkar Kesesatan Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid’ah Sesat

Mei 9, 2010 26 komentar

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Baca selanjutnya…

Sekilas Perkembangan Tarekat Dan Tasawuf Di Indonsia (Supaya Kita Paham Bahwa Ulama Ahlussunnah Adalah Kaum Sufi Sejati)

April 26, 2010 4 komentar

Bismillâh ar-Rahman al-Rahîm.

al-Imam al-Hafizh Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf al-Syaibi al-Harari

al-Imam al-Hafizh Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf al-Syaibi al-Harari

Segala puji Allah Tuhan sekalian alam. Dia tidak menyerupai apapun dari makhluk-Nya. Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Dan siapapun dari makhluk-Nya selalu membutuhkan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, Nabi pembawa wahyu dan kebenaran.

Dalam peta Indonesia, paling tidak ada tiga hal yang membuat penyebaran agama Islam cukup unik untuk dikaji.

Pertama; Secara geografis wilayah nusantara sangat jauh dari negara-negara Arab sebagai pusat munculnya dakwah Islam. Jaringan informasi dari satu wilayah ke wilayah lain saat itu sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Namun demikian perkembangan Islam di Nusantara pada awal kedatangannya sangat pesat, mungkin melebihi penyebaran ke wilayah barat dari bumi ini. Baca selanjutnya…

Imam Uwais al-Qarani

Desember 31, 2009 4 komentar

Uwais al-Qarani[1]

Beliau bernama Uwais ibn ‘Amir ibn Jaza’ ibn Malik ibn ‘Amr ibn Sa’ad ibn ‘Ashwan ibn Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad. Nama asli Murad yang disebutkan terakhir adalah Yuhabir ibn Malik ibn ‘Udad.

Al-Jauhari dalam kitab al-Shihâh mengatakan bahwa al-Qarani adalah nisbat kepada suatu tempat bernama Qaran. Yaitu mîqât bagi penduduk Najd yang berada di daerah Tha’if. Sementara al-Fairuzabadi dalam al-Qâmûs al-Muhîth mengatakan bahwa penisbatan Uwais al-Qarani kepada nama daerah Qaran ini adalah pendapat salah. Pendapat yang benar, menurutnya, al-Qarani adalah nisbat kepada salah seorang nama kakeknya, ialah Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad. Baca selanjutnya…