Arsip

Posts Tagged ‘Sunnah’

Siapakah Ibn Qayyim al-Jawziyyah? [Mengenal Salah Satu “Tiang” Aqidah Sesat Wahabi]

Juni 1, 2010 6 komentar

al-Wajh Pada Hak Allah Bukan Dalam Makna Muka Atau Anggota Badan (Mewaspadai Aqidah Sesat Wahabi). Kaum Wahabi berkeyakinan sesat mengatakan ALlah bertempat di atasy arsy, lalu pada saat yang sama mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit, di dua tempat heh!!! Na'udzu Billah. Ingat, Aqidah Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah berkeyakinan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH. Waspadai ajaran sesat Wahabi, klik gambar!!!!!

al-Wajh Pada Hak Allah Bukan Dalam Makna Muka Atau Anggota Badan (Mewaspadai Aqidah Sesat Wahabi). Kaum Wahabi berkeyakinan sesat mengatakan ALlah bertempat di atasy arsy, lalu pada saat yang sama mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit, di dua tempat heh!!! Na'udzu Billah. Ingat, Aqidah Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah berkeyakinan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH. Waspadai ajaran sesat Wahabi, klik gambar!!!!!

Ia bernama Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayyub az-Zar’i, dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah, lahir tahun 691 hijriyah dan wafat tahun 751 hijriyah. Al-Dzahabi dalam kitab al-Mu’jam al-Mukhtash menuliskan tentang sosok Ibn Qayyim sebagai berikut:

“Ia tertarik dengan disiplin Hadits, matan-matan-nya, dan para perawinya. Ia juga berkecimpung dalam bidang fiqih dan cukup kompeten di dalamnya. Ia juga mendalami ilmu nahwu dan lainnya. Ia telah dipenjarakan beberapa kali karena pengingkarannya terhadap kebolehan melakukan perjalanan untuk ziarah ke makam Nabi Ibrahim. Ia menyibukan diri dengan menulis beberapa karya dan menyebarkan ilmu-ilmunya, hanya saja ia seorang yang suka merasa paling benar dan terlena dengan pendapat-pendapatnya sendiri, hingga ia menjadi seorang yang terlalu berani atau nekad dalam banyak permasalahan” (al-Mu’jam al-Mukhtash). Baca selanjutnya…

Iklan

Dari Pernyataan Ulama Ahlussunnah Dalam Menjelaskan Bahwa Allah Ada Tanpa Tempat Dan Tanpa Arah (Mewaspadai Ajaran Wahhabi)

Mei 28, 2010 7 komentar

Pernyataan Para Ulama Ahlussunnah Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah; Mewaspadai Aqidah Tasybih Sesat Yang Dipropagandakan Kaum Wahhabi; Waspadai Mereka, Jangan Sampai Merusak Generasi Kita!!!! klik gambar...

Dalam tulisan ringkas ini kita kutip pernyataan beberapa ulama dalam penjelasan dalil-dalil akal bahwa Allah tidak membutuhkan tempat dan arah, sekaligus untuk menetapkan bahwa keyakinan Allah bersemayam di ata arsy, atau bahwa Allah berada di arah atas, serta keyakinan-keyakinan tasybih lainnya adalah keyakinan batil, berseberangan dengan akidah Rasulullah dan para sahabatnya serta keyakinan yang sama sekali tidak dapat diterima oleh akal sehat. Berikut ini kita kutip pernyataan mereka satu persatu.

• al-Imam Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syafi’i (w 478 H) dalam kitab al-Ghunyah Fi Ushuliddin menuliskan sebagai berikut:

“Tujuan penulisan dari pasal ini adalah untuk menetapkan bahwa Allah tidak membutuhkan tempat dan arah. Berbeda dengan kaum Karramiyyah, Hasyawiyyah dan Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas. Bahkan sebagian dari kelompok-kelompok tersebut mengatakan bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy. Jelas mereka kaum yang sesat. Allah Maha Suci dari keyakinan kelompok-kelompok tersebut. Baca selanjutnya…

Yang Benar Saja Masa Memakai Tasbih Dalam Menghitung Bacaan Dzikir Dianggap Bid’ah Sesat?! (Mewaspadai Ajaran Wahhabi)

April 26, 2010 15 komentar

Beberapa Jumlah Dzikir Yang Disebutkan Dalam Sunnah

Dari Tulisan Para Ulama Dalam Menjelaskan Kesesatan Akidah Hulûl dan Wahdah al-Wujûd. Ingat, Akidah Rasulullah, salaf saleh, dan mayoritas ummat Islam; kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah: ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH.

Dari Tulisan Para Ulama Dalam Menjelaskan Kesesatan Akidah Hulûl dan Wahdah al-Wujûd. Ingat, Akidah Rasulullah, salaf saleh, dan mayoritas ummat Islam; kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah: ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH.

Dalam beberapa hadits disebutkan tentang berapa jumlah dzikir yang dianjurkan untuk dibaca di dalam shalat, setelah shalat atau di luar shalat. Mulai dari bacaan 1 kali, 3 kali, 7 kali, 10 kali, 33 kali dan lainnya. Berikut ini akan disebutkan jumlah-jumlah yang secara jelas dianjurkan dalam beberapa hadits untuk dibaca lebih dari seratus kali. Sekaligus ini sebagai bantahan atas sebagian orang di masayarakat kita yang “mengharamkan” membaca dzikir dengan hitungan-hitungan tertentu.
Yang sangat ironis adalah bahwa di antara mereka yang “mengharamkan” membaca dzikir dengan hitungan-hitungan tertentu ada yang mengaku dirinya sebagai ahli hadits, lalu ia mengatakan bahwa jumlah bilangan terbanyak untuk dzikir yang disebutkan dalam sunnah adalah seratus kali saja. Karena itu, menurutnya, jika seseorang membaca dzikir tertentu dengan hitungan lebih dari seratus kali maka hukumnya haram. Hasbunallah Baca selanjutnya…

Jangan Sembarangan Mengkafirkan Orang Yang Bertawassul (Mewaspadai Ajaran Wahhabi)

April 24, 2010 2 komentar

ka'bah

al-Ka'bah al-Musyarrafah

Ada kelompok di masyarakat kita membawa jargon “basmi TBC”, mereka menamakan diri “Salafi”, saya lebih suka menyebut mereka “Talafi” (Perusak). Kata-kata “manis” yang sering mereka dengungkan; “Kita berangus bid’ah”, “Kita hanya mengambil al-Qur’an dan Sunnah”, dan lainnya. Banyak perkara-perkara yang telah mapan di kalangan umat Islam oleh mereka “dimejahijaukan”, salah satunya adalah masalah tawassul. Seringkali dengan sangat ringan keluar kata-kata dari mulut mereka: “Orang yang tawassul adalah orang kafir”. Heh.. Mereka mau mambasmi atau malah menyebarkan “TBC”?! Baca selanjutnya…

Imam Uwais al-Qarani

Desember 31, 2009 4 komentar

Uwais al-Qarani[1]

Beliau bernama Uwais ibn ‘Amir ibn Jaza’ ibn Malik ibn ‘Amr ibn Sa’ad ibn ‘Ashwan ibn Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad. Nama asli Murad yang disebutkan terakhir adalah Yuhabir ibn Malik ibn ‘Udad.

Al-Jauhari dalam kitab al-Shihâh mengatakan bahwa al-Qarani adalah nisbat kepada suatu tempat bernama Qaran. Yaitu mîqât bagi penduduk Najd yang berada di daerah Tha’if. Sementara al-Fairuzabadi dalam al-Qâmûs al-Muhîth mengatakan bahwa penisbatan Uwais al-Qarani kepada nama daerah Qaran ini adalah pendapat salah. Pendapat yang benar, menurutnya, al-Qarani adalah nisbat kepada salah seorang nama kakeknya, ialah Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad. Baca selanjutnya…