Allah_E_

al-Wajh Pada Hak Allah Bukan Dalam Makna Muka Atau Anggota Badan (Mewaspadai Aqidah Sesat Wahabi). Kaum Wahabi berkeyakinan sesat mengatakan ALlah bertempat di atasy arsy, lalu pada saat yang sama mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit, di dua tempat heh!!! Na'udzu Billah. Ingat, Aqidah Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah berkeyakinan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH. Waspadai ajaran sesat Wahabi, klik gambar!!!!!

al-Wajh Pada Hak Allah Bukan Dalam Makna Muka Atau Anggota Badan (Mewaspadai Aqidah Sesat Wahabi). Kaum Wahabi berkeyakinan sesat mengatakan ALlah bertempat di atasy arsy, lalu pada saat yang sama mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit, di dua tempat heh!!! Na’udzu Billah. Ingat, Aqidah Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah berkeyakinan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH. Waspadai ajaran sesat Wahabi, klik gambar!!!!!

Iklan

Al-Imam at-Tirmidzi dalam kitab Sunan meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda (Lihat Sunan At-Tirmidzi; Kitab al-Radla’, Bab 81):

المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان . رواه التردذي

Artinya; ”Seorang perempuan adalah aurat, maka apa bila ia keluar ia dibarengi oleh setan”. Dalam riwayat al-Imam al-Bazzar, hadits di atas ada tambahan berikut:

وأقرب ما تكون المرأة من وجه ربها وهي في قعر بيتها . رواه البزار

Artinya; ”Perempuan yang paling dekat dalam “ketaatan” terhadap Tuhannya adalah bila dia berada di dalam rumahnya”. Al-Hafizh Abu al-Hasan ibn al-Qaththan dalam kitab al-Nazhar berkata bahwa hadits di atas adalah hadits shahih ) al-Nadzlar Fi Ahkam al-Nadzar, h. 138. Hadits dengan dua redaksi ini juga telah diriwayatkan oleh al-Imam Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya (Lihat al-Ihsan Bi Tartib Shahih Ibn Hibban, j. 7, h. 446).

Al-Wajh dalam hadits di atas maknanya adalah ath-Tha’ah (ketaatan). Adapun pendapat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa makna al-Wajh yang dinisbatkan kepada Allah dalam makna anggota badan seperti yang ada pada manusia adalah pendapat yang didasarkan kepada kebodohan. Pemaknaan al-Wajh dalam pengertian ath-Tha’ah ini menguatkan kebenaran tafsir firman Allah:

كل شىء هالك إلا وجهه (القصص: 88

bahwa yang dimaksud dengan al-Wajh dalam ayat ini adalah: “Sesuatu, atau amalan yang diusahakan untuk tujuan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah”, artinya bahwa segala sesuatu yang merupakan ketaatan-ketaatan kepada Allah tidak akan punah, tetapi itu semua akan didapati di akhirat kelak. Libih lengkap lihat takwil ini dalam kitab Shahih al-Bukhari dalam tafsir QS. al-Qashash.

Dengan demikian apakah yang mendorong kaum Wahhabiyyah memahami makna al-Wajh pada hak Allah dalam ayat di atas dengan makna muka/benda, sementara mereka malah meninggalkan makna “ketaatan” seperti yang di maksud dengan hadits di atas!? Keyakinan kaum Wahhabiyyah semacam ini tidak ubanya seperti keyakinan Bayan ibn as-Sim’an at-Tamimi; salah seorang pemuka kaum Musyabbihah pada masanya. Ia menafsirkan firman Allah QS. al-Qashash: 88 di atas dengan mengatakan bahwa alam adalah sesuatu; maka alam akan punah, dan Allah juga sesuatu; maka Allah juga akan punah, kecuali yang tersisa dari-Nya hanyalah wajah-Nya saja. Jadi sebenarnya kaum Wahhabiyyah dengan orang-orang semacam Bayan ini memiliki dasar keyakinan yang sama, yaitu meyakini bahwa Allah memiliki bentuk dan ukuran. Dan bencana terbesar dari sebab kesesatan mereka adalah bahwa mereka tidak dapat memahami “sesuatu yang ada” kecuali sesuatu tersebut, –menurut mereka–, pastilah merupakan benda. Maka di atas dasar inilah kemudian kaum Wahhabiyyah dan orang-orang semacam mereka berusaha untuk menjadikan Allah sebagi benda yang memiliki ukuran, dan bahwa Allah bersifat dengan sifat-sifat benda. Bagaimana mungkin orang-orang semacam mereka mengaku memahami dengan benar makna firman Allah dalam QS. asy-Syura: 11 bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya?! Jika benar mereka beriman kepada-Nya dan mengetahui dengan benar kandungan firman Allah QS. asy-Syura: 11 tersebut, maka mereka tidak akan mengatakan Allah sebagai benda, karena alam ini; yaitu segala sesuatu selain Allah, apapun dia pastilah semua itu merupakan benda yang memiliki bentuk dan ukuran, dan benda-benda tersebut memiliki sifat masing-masing yang tetap dengannya, seperti gerak, diam, warna, memiliki tempat dan arah, dan lain sebagainya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s